Hari pertama (30 hari yang lalu)
Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku, yang aku tahu ruangan sebesar ini, tempat dimana aku duduk, sudah mulai terisi penuh kecuali bangku kosong disebelahku.
“Hmm.. eh, di sebelah lo ada orang?” tanya suara yang masih asing itu.
Aku menengadah perlahan melihat sosok yang berdiri tepat disampingku. Tubuhnya tinggi, keturunan Arab, tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, kulitnya kecoklatan dengan rambut bergaya klasik.
“Ngga ada.” Jawabku singkat tanpa menatap si penanya.
“Oh, kalo gitu gue duduk disebelah lo ngga apa-apa ya?”
“Tapi telponnya ngga bisa dipake.”
“Ngga apa-apa.” Timpal laki-laki tadi dengan senyum.
Aku sibuk dengan laptop dan aktivitas browsing-ku, karena memang tidak ada lagi yang harus dilakukan terkait dengan pekerjaan. Sedikit didominasi rasa iseng, mataku sesekali melirik tampilan layar laptop laki-laki di sebelahku. Aku terpingkal di dalam hati, aku tidak sendirian pikirku, laki-laki disebelahku pun ternyata melakukan hal yang sama denganku. Hanya berkelana di dunia maya. Jobless.
Saat tatapanku tidak sengaja beradu dengan tatapannya, dia tampak malu. Bukan karena kami saling melihat, tapi sepertinya dia sadar mataku sudah terlanjur menangkap tampilan halaman-halaman web di layar laptopnya. Senyum kami pun membuncah karena nasib yang sama.
Setelah makan siang,
“Kalo mau buka halaman ini gimana ya?” tanyanya tiba-tiba padaku sembari terus menatap layar laptopnya.
Aku sedikit merapatkan tubuhku kearahnya dan melihat tampilan layar laptop miliknya. Tidak butuh waktu lama aku mengerti apa yang dia tanyakan, aku mencoba mencari jawaban dengan menekan tuts keyboard laptopku sendiri. Jawaban pun aku dapatkan. Dari sana, kami mulai mengobrol, membicarakan ini itu, bertukar nama, dan diselingi sedikit cerita ringan. Aku pun akhirnya tahu kami bekerja di divisi yang berbeda, tapi ruangan tempat laki-laki itu seharusnya duduk sudah penuh, terpaksa dia duduk di ruangan ini. Ruangan divisiku. Semakin jauh mengobrol, kami sama-sama sedikit terkejut karena ternyata daerah tempat tinggal kami cukup berdekatan. Membahas pekerjaan, biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa sampai ke kantor hingga akhirnya kebersamaan itu pun harus berakhir karena sudah waktunya kami pulang.
(Husaam – pedang yang tajam)
Hari kedua (29 hari yang lalu)
Aku masih duduk sendiri dengan bangku di sebelahku yang kosong. Setengah jam setelah jam kedatanganku, seorang laki-laki yang lain, bukan Husaam, datang dan menanyakan apakah ada orang yang akan duduk di sebelahku. Nyaris seperti déjà vu.
Aku menggeleng, laki-laki yang tidak aku kenal itu pun meletakkan barang-barangnya dan duduk di sebelahku hingga hari itu berakhir. Aku melihatnya, Husaam. Dia menoleh ke arahku, melihat bangku di sebelahku sudah ada yang menduduki. Aku tidak berpikir apa-apa, mungkin Husaam juga begitu. Dia hanya berjalan dan berlalu.
Hari kesembilan (22 hari yang lalu)
Husaam duduk di kubikal tepat di depanku. Perasaanku biasa saja. Di datang saat hari masih pagi. Dengan senyum simpul seperti saat pertama kali kami bertemu. Dia meninggalkan laptop dan tasnya di meja seharian. Dia tidak menempati bangkunya karena harus mengikuti seminar untuk new hire di lantai lain.
Hari ini sepenuhnya berjalan biasa-biasa saja. Hanya saja hatiku seperti kurang kerjaan bertanya-tanya. Apa ruangan tempat divisi Husaam selalu penuh? Apa dia selalu tidak mendapat tempat disana? Kenapa dia selalu duduk di ruangan ini? Apa dia sengaja atau hanya mau tanpa ada alasan apa-apa?
Hari ke dua puluh delapan (2 hari yang lalu)
Masih dengan alibi tidak ada yang harus dikerjaan, setiap kali bosan dengan internet, aku membiarkan pandanganku menatap seisi ruangan. Dua blok kubikal dari tempatku duduk, aku melihat Husaam sedang duduk dengan posisi berhadapan denganku. Pandangan kami bertemu. Aku seketika tertunduk, tidak ingin tertangkap basah. Isi hati Husaam, aku tidak tahu.
Hari ke dua puluh sembilan (1 hari yang lalu)
Hari itu tidak berjalan terlalu baik, mood-ku sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Hari sudah semakin sore dan hanya dalam beberapa jam kedepan aku bisa pulang. Sosok yang ku kenal itu berjalan ke arahku dari kejauhan. Membawa secangkir minuman kopi melewatiku. Seperti mendapat mood-booster senyumku membuncah tanpa bisa ditahan. Mataku berputar mengikuti kemana langkah kaki sosok yang ku kukenal itu pergi. Dibelakangku, sejak tadi, tanpa aku sadari, Husaam duduk di belakangku. Satu baris di belakangku. Tempat dimana dia bisa melihat punggungku dan puluhan punggung lain.
Berbagai argumen menari-nari di kepalaku. Untuk mengambil secangkir kopi seharusnya tidak perlu berputar melewati tempat dudukku. Berjalan melewati lorong kecil disebelah kanan tempat dia duduk seharusnya bisa lebih dekat. Untuk kesekian kalinya dia berjalan melewati tempat dudukku. Mata kami beradu, dan tanpa disadari dengan kompak kami sama-sama membuang muka. Gugup, itu isi hatiku. Isi hati Husaam, aku tidak tahu.
Hari ke tiga puluh (hari ini)
‘Tidak di depanku, tidak juga dibelakangku. Tidak ada kamu di antara puluhan orang yang ada disini. Aku sempat sedikit menunggu, hingga hari ini berakhir, tapi tidak ada kamu.’ gumamku di dalam hati.
Touch my hand – David Archuleta is now playing
*end*
Risya Ayu