Monday, August 15, 2011

Break Fasting

kiri - kanan : icha, lulu, tissa, nca, chikam, noni, muthe, rira, risya

kiri - kanan : icha, lulu, nca, rira, tissa, chikam, risya, muthe, noni

Gading Food City 13-8-2011
Break Fasting :))
Published with Blogger-droid v1.7.4

Friday, August 12, 2011

Kiss



Wondering you and I are sitting peacefully in the river side. Finally you said that you like me too. It’ll be just like a dream come true. Don’t you think I’m just a dreamer lady? 

Kiss me – Sixpence None the Richer is now playing

Passport

Judul blog ini sama dengan judul sebuah email yang sangat menginspirasi yang baru saja saya baca. Sejak kuliah saya mengikuti milis yang ternyata banyak para praktisi dan akademisi di bidang ekonomi bisnis yang juga menjadi bagian dari milis tersebut. Setelah membaca postingan dari Bapak Rhenald Kasali (pasti sudah sering denger nama ini lah ya) semangat saya untuk ke luar negeri benar-benar membara-bara bagaimana pun caranya.

Diawal emailnya Pak Rhenald menyinggung masalah betapa pentingnya memiliki sebuah passport. Ketika kebanyakan dosen sibuk memberikan tugas berupa PR dan paper, beliau justru memberikan tugas pertama kepada para mahasiswanya untuk mengurus passport. Setiap mahasiswanya harus memiliki passport karena menurutnya passport adalah “Surat Ijin Memasuki Dunia Global.”

Kalau ada yang bertanya bagaimana dengan masalah biaya ke luar negeri yang (relatif) mahal? Pak Rhenald menjawab tidak tahu dan mengatakan kalimat di bawah ini:

Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Beliau menekankan jika dari setiap pertanyaan jawabannya adalah uang kapan kita bisa maju and push our limits to live our lives to the fullest?? Pak Rhenald juga bercerita bahwa banyak pelancong yang berusaha mandiri untuk tetap bisa keluar negeri tanpa harus merasa kalah dengan tiga kata “tidak punya uang.” Seperti dikutip dari isi emailnya, Pak Rhenald memaparkan para pelancong tersebut adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Semua mereka lakukan demi mencapai cita-cita mereka.

Kalau dibahas disini mungkin saya tidak bisa bercerita sebaik Pak Rhenald membagi kisahnya melalui email yang dikirimnya. Namun yang pasti, begitu saya selesai membaca isi emailnya, perasaan semangat untuk bisa keluar negeri walaupun hanya untuk sekedar jalan-jalan menikmati anugerah yang Tuhan ciptakan, semakin tidak terbendung. Saya juga langsung mem-forward email tersebut ke beberapa teman dekat dengan harapan mereka bisa terinspirasi.

Kalau ada yang tertarik ingin membaca langsung isi email yang di posting Pak Rhenald, jangan sungkan untuk meninggalkan alamat email pada kolom komentar tulisan ini ya, dengan senang hati saya akan mem-forward email dari milis tersebut agar kita bisa membangun mimpi yang setinggi-tingginya bersama-sama.

Takut

Apakah kamu pernah merasa takut ketika harus menghadapi seseorang? Takut dalam arti sebenarnya, bukan karena segan. Kondisi diperparah ketika kamu berusaha berterus terang bahwa kamu merasa takut tapi tanggapan yang kamu dengar berupa kalimat konyol yang merendahkan.

“Kenapa takut sama saya? Memang saya setan? Memang saya menggigit?”

Kalimat konyol yang keluar dari sosok yang lebih tua, berpendidikan dan kamu hormati namun tidak memiliki hati (sepertinya). Bisa jadi karena merasa lebih tua, berpendidikan dan ingin dihormati seseorang yang kamu takuti itu merasa tidak ingin disalahkan, semua yang baik dan benar menurutnya sudah pasti baik dan benar juga untuk orang lain.

Orang semacam itu yang tidak memiliki pola pikir terbuka dan dan tidak bisa menghargai pendapat orang lain. Tidak mau mendengarkan, padahal kalau pun ada hal yang salah, kewajiban mereka adalah meluruskan dengan komunikasi yang baik tidak dengan menghakimi dan tidak menerima perbedaan pendapat.

Seringkali orang yang dituakan dan dihormati itu larut dalam egonya. Mereka mengingkari bahwa secara psikis perilaku mereka yang tidak mau disalahkan itu membuat kami yang muda dan belum memiliki pendidikan sebaik mereka merasa takut dan malas menjalin komunikasi karena tahu risikonya adalah tidak didengar dan dianggap. Mereka terus beralibi bahwa kami ini belum mengerti apa-apa tentang kehidupan.
Padahal kami hanya ingin dimengerti dan mendapatkan rasa aman dalam mengkomunikasikan apa yang ingin kami tahu. Padahal kami hanya ingin didengar dan diluruskan kalau ada kesalahan atas apa yang kami lakukan. Bicaralah pada kami dengan hati. Itu saja.

Love,,
Risya Ayu

Ibu

Rasanya baru kemarin aku menemani Ibu ke pasar setiap pagi di hari minggu
Rasanya baru kemarin aku diantar dan dijemput Ibu dari sekolah TK
Rasanya baru kemarin aku tidak pernah melewatkan rutinitas merengekku untuk dibelikan mainan yang aku sebut panda-pandaan* setiap kali aku mendapatkan peringkat satu
Rasanya baru kemarin lidahku masih bisa menikmati berbagai menu masakan Ibu
Rasanya baru kemarin aku membuat Ibu marah, membuat Ibu cemas, membuat Ibu tertawa.

Hingga akhirnya, baru kemarin pula rasanya aku menyaksikan Ibu jatuh sakit
Menyaksikan Ibu harus terbaring di rumah sakit
Dan menyaksikan diriku yang lemah menghadapi kepergian Ibu
Mengasihani diriku sendiri yang hanya memiliki waktu yang begitu singkat untuk bersama-sama Ibu
Tidak terasa, sudah enam tahun aku melewati hari-hari, tanpa Ibu
Merasa iri dengan mereka yang masih bisa disayang Ibu-nya, dimasakkan masakan kesukaannya, dibangunkan dari tidur ketika pagi menyapa, dan memiliki kesempatan untuk membahagiakan Ibu mereka.


*Set mainan anak perempuan yang terdiri dari orang-orangan, lengkap dengan perabotan rumah-rumahannya.

Love,,
Risya Ayu

Letters to Juliet

I've just seen this movie last night. Unique and inspiring are my thoughts about it. This movie tell us about be brave to find our true love, be brave to tell about what you feel and absolutely be brave to choose based on your inner guide whisper. Sounds cliché, ha? But Love story is not that boring sometimes, and not even only a rag. Trust me.



Sophie an American girl and a fact checker who had always pictured becoming a writer.


Sophie and Victor, her fiancé.


A wall where the lovelorn leave notes, hoping that Juliet will answer their inquiries about love, Verona, Italy.


Claire and the one who got away from her which finally found, Lorenzo.


Sophie and her true love, Charlie.

Dear Claire,
What and If are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life.
What if? What if? What if?
I don’t know how your story ended but if what you felt then was true love, then it’s never too late. If it was true then, why wouldn’t it be true now? You need only the courage to follow your heart.
I don’t know what a love like Juliet’s feels like; love to leave loved ones for, love to cross oceans for. But I’d like to believe if I ever were to feel it, that I will have the courage to seize it. And, Claire, if you didn’t, I hope one day that you will.
All my love,

Juliet

Thursday, May 19, 2011

30 Hari

Hari pertama (30 hari yang lalu)

Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku, yang aku tahu ruangan sebesar ini, tempat dimana aku duduk, sudah mulai terisi penuh kecuali bangku kosong disebelahku.
“Hmm.. eh, di sebelah lo ada orang?” tanya suara yang masih asing itu.
Aku menengadah perlahan melihat sosok yang berdiri tepat disampingku. Tubuhnya tinggi, keturunan Arab, tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, kulitnya kecoklatan dengan rambut bergaya klasik.
Ngga ada.” Jawabku singkat tanpa menatap si penanya.
“Oh, kalo gitu gue duduk disebelah lo ngga apa-apa ya?”
“Tapi telponnya ngga bisa dipake.”
“Ngga apa-apa.” Timpal laki-laki tadi dengan senyum.
Aku sibuk dengan laptop dan aktivitas browsing-ku, karena memang tidak ada lagi yang harus dilakukan terkait dengan pekerjaan. Sedikit didominasi rasa iseng, mataku sesekali melirik tampilan layar laptop laki-laki di sebelahku. Aku terpingkal di dalam hati, aku tidak sendirian pikirku, laki-laki disebelahku pun ternyata melakukan hal yang sama denganku. Hanya berkelana di dunia maya. Jobless.
Saat tatapanku tidak sengaja beradu dengan tatapannya, dia tampak malu. Bukan karena kami saling melihat, tapi sepertinya dia sadar mataku sudah terlanjur menangkap tampilan halaman-halaman web di layar laptopnya. Senyum kami pun membuncah karena nasib yang sama.

Setelah makan siang,

Kalo mau buka halaman ini gimana ya?” tanyanya tiba-tiba padaku sembari terus menatap layar laptopnya.
Aku sedikit merapatkan tubuhku kearahnya dan melihat tampilan layar laptop miliknya. Tidak butuh waktu lama aku mengerti apa yang dia tanyakan, aku mencoba mencari jawaban dengan menekan tuts keyboard laptopku sendiri. Jawaban pun aku dapatkan. Dari sana, kami mulai mengobrol, membicarakan ini itu, bertukar nama, dan diselingi sedikit cerita ringan. Aku pun akhirnya tahu kami bekerja di divisi yang berbeda, tapi ruangan tempat laki-laki itu seharusnya duduk sudah penuh, terpaksa dia duduk di ruangan ini. Ruangan divisiku. Semakin jauh mengobrol, kami sama-sama sedikit terkejut karena ternyata daerah tempat tinggal kami cukup berdekatan. Membahas pekerjaan, biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa sampai ke kantor hingga akhirnya kebersamaan itu pun harus berakhir karena sudah waktunya kami pulang.

(Husaam – pedang yang tajam)

Hari kedua (29 hari yang lalu)

Aku masih duduk sendiri dengan bangku di sebelahku yang kosong. Setengah jam setelah jam kedatanganku, seorang laki-laki yang lain, bukan Husaam, datang dan menanyakan apakah ada orang yang akan duduk di sebelahku. Nyaris seperti déjà vu.
Aku menggeleng, laki-laki yang tidak aku kenal itu pun meletakkan barang-barangnya dan duduk di sebelahku hingga hari itu berakhir. Aku melihatnya, Husaam. Dia menoleh ke arahku, melihat bangku di sebelahku sudah ada yang menduduki. Aku tidak berpikir apa-apa, mungkin Husaam juga begitu. Dia hanya berjalan dan berlalu.

Hari  kesembilan (22 hari yang lalu)
Husaam duduk di kubikal tepat di depanku. Perasaanku biasa saja. Di datang saat hari masih pagi. Dengan senyum simpul seperti saat pertama kali kami bertemu. Dia meninggalkan laptop dan tasnya di meja seharian. Dia tidak menempati bangkunya karena harus mengikuti seminar untuk new hire di lantai lain.
Hari ini sepenuhnya berjalan biasa-biasa saja. Hanya saja hatiku seperti kurang kerjaan bertanya-tanya. Apa ruangan tempat divisi Husaam selalu penuh? Apa dia selalu tidak mendapat tempat disana? Kenapa dia selalu duduk di ruangan ini? Apa dia sengaja atau hanya mau tanpa ada alasan apa-apa?

Hari ke dua puluh delapan (2 hari yang lalu)

Masih dengan alibi tidak ada yang harus dikerjaan, setiap kali bosan dengan internet, aku membiarkan pandanganku menatap seisi ruangan. Dua blok kubikal dari tempatku duduk, aku melihat Husaam sedang duduk dengan posisi berhadapan denganku. Pandangan kami bertemu. Aku seketika tertunduk, tidak ingin tertangkap basah. Isi hati Husaam, aku tidak tahu.

Hari ke dua puluh sembilan (1 hari yang lalu)

Hari itu tidak berjalan terlalu baik, mood-ku sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Hari sudah semakin sore dan hanya dalam beberapa jam kedepan aku bisa pulang. Sosok yang ku kenal itu berjalan ke arahku dari kejauhan. Membawa secangkir minuman kopi melewatiku. Seperti mendapat mood-booster senyumku membuncah tanpa bisa ditahan. Mataku berputar mengikuti kemana langkah kaki sosok yang ku kukenal itu pergi. Dibelakangku, sejak tadi, tanpa aku sadari, Husaam duduk di belakangku. Satu baris di belakangku. Tempat dimana dia bisa melihat punggungku dan puluhan punggung lain.
Berbagai argumen menari-nari di kepalaku. Untuk mengambil secangkir kopi seharusnya tidak perlu berputar melewati tempat dudukku. Berjalan melewati lorong kecil disebelah kanan tempat dia duduk seharusnya bisa lebih dekat. Untuk kesekian kalinya dia berjalan melewati tempat dudukku. Mata kami beradu, dan tanpa disadari dengan kompak kami sama-sama membuang muka. Gugup, itu isi hatiku. Isi hati Husaam, aku tidak tahu.

Hari ke tiga puluh (hari ini)

‘Tidak di depanku, tidak juga dibelakangku. Tidak ada kamu di antara puluhan orang yang ada disini. Aku sempat sedikit menunggu, hingga hari ini berakhir, tapi tidak ada kamu.’ gumamku di dalam hati.

Touch my hand – David Archuleta is now playing


*end*
Risya Ayu